Random

Ketika terbelenggu sebuah aturan mengikat, ke-senior-an masih diagungkan, inovasi dibatasi, apa cukup dengan bersabar dan berharap suatu saat kondisi akan berubah dengan mencoba menikmati dan menjalankan yang ada?

Ketika sebuah keadaan yang paling realistis untuk diubah hanya melalui kekuasaan tertinggi dalam sebuah struktur, haruskah berpasrah menunggu akan adanya terobosan melalui seseorang?

Ketika jiwa sedang berjuang merangkai keikhlasan dan ketulusan tiba-tiba terhalang sebuah zona abu yang bahkan menawarkan zona nyaman yang tak pernah menantang diri untuk bergerak dan berlari, akankah hilang dengan sendirinya dengan alibi akan ada waktunya di atas dan di bawah?

Ketika semua tindakan sudah tidak berlandas keimanan dan ketenangan hati, haruskah berlari sejenak atau mungkin terbang jika memungkinkan, menghindar, dan berharap keajaiban perubahan akan terjadi saat kembali?

Ketika jiwa ke-pujangga-an mulai menulis kata beda tipis dengan definisi dangkal galau, perlukah berhenti menulis?

Ketika semua ini terfikir, saya sadar penuh bahwa waktu tak pernah berkompromisampai kapanpun

Saya, harus bergerak… entah mulai darimana…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s