Jakarta Menuju Sepuluh. Dua emosi.

08082012. Menuju pukul 22.00 WIB.

Bunderan Senayan. Saya yang ceritanya baru beres bubar bareng Mr. A dan Mbah tiba2 aja nemu pemandangan yang ga enak, ada satu motor dan satu mobil dan satu penumpang motor terduduk di bawah plang U-turn. Adu argumen antara siapa yang salah dan siapa yang bertanggungjawab. Personil di trotoar hanya hobi komentar komat kamit entah bicara apa,  saya? lempeng aja (ga suka sebenernya sama kejadian2 kaya gitu, sebenarnya ga tau harus apa dan bagaimana, ikut campur? ngapain juga) orang-orang dewasa jakarta saya rasa tidak bodoh untuk menyelesaikan permasalahan macam itu dengan jalan yang baik.

Ratu Plaza – Plaza Indonesia. Perjalanan lancar mulus hanya perlu ekstra sabar untuk menunggu datangnya busway, ah itu sudah biasa.

Halte PI. Di satu halte sebelum halte tujuan saya ini, tiba2 ada adu argumentasi antara satu penumpang (P) yang memaksa masuk ke pejaga pintu (PP) yang turut bikin supir (S) komentar dan ujung2nya turut memancing emosi penumpang lain (PL). Kurang lebih begini.. PP: “maaf pak sudah penuh” | P (dgn nada tinggi): “ini apaan sih satu orang aja ko ga bisa masuk!! mending kalau buswaynya datang 5 menit sekali!! lama ini nunggunya!! blablabla (emosi skalian curhat kayanya)” | PP: “saya cuman ga pengen penumpang saya kejepit, pak” | S: “Sudah Pak, sudah” |(mobil yang memang agak ngebut dibarengin guncangan2 yang padahal sudah begitu sejak awal saya naik tiba2 aja memicu emosi) PL: “eh Pak supir bawanya yang benerlah! jangan sampai saya tendang dari sini!! (ini wanita looh yang komentar, ckckck)” | S: “ini jalannya buu yang ga bagus”| PL: “bapak ini pelayan masyarakat, harusnya melayani dengan baik” | P: “betul itu! mana ada sih yang suka dengan  busway!!”.

Baiklaaaah dalam kondisi letih, terjepit, marah, disitulah wajah asli seseorang  bisa kita lihat. Ini jakarta, bung! cacian makian untuk pelayan masyarakat seperti PP dan S seperti itu sudah biasa saya dengar. Ga akan ada gunanya kalau saya ikut komentar dengan dalih meluruskan pikiran orang yang sedang emosi. Bisa jadi emosi si P itu akumulasi kekesalan P setelah bertahun-tahun menguras ekstra kesabaran jadi penumpang busway yang tak ada perubahan dalam sistem pelayanannya. Bisa jadi juga ada permasalahan pribadi si P sedari pagi hari yang menumpuk hingga malam hari dan akhirnya.. BOOM! meledaklah emosinya. Permasalahannya, tak hanya P yang emosi, PL atau PL2 lainnya mungkin juga sudah lelah dengan keadaan, sedang emosi, sedang punya masalah, dan ujung2nya emosi menular.

Sudah jadi pemandangan sehari-hari, jakarta sore hingga malam, tidak pernah disuguhi dengan senyum manis penghuninya. Mereka sudah lelah seharian,  lelah fisik maupun mental. Dari kejadian busway itu, untuk mencari jawaban siapa yang salah, tidak ada yang salah atau mungkin semua salah. Penduduk yang sudah habis kesabaran, fasilitas pemerintahan yang terbatas, pelayan masyarakat yang terbatas, O2 yang tak kondusif diperebutkan puluhan ribu rongga pernafasan, daaan berpuluh faktor lainnya.

Ini hanya sebuah cerminan jakarta di satu waktu di satu tempat. Tak ada niat untuk men-judge, hanya ingin berbagi cerita.

Speak when you are angry and you will make the best speech you will ever regret.

AMBROSE BIERCE, The Devil’s Dictionary

 

Advertisements

2 thoughts on “Jakarta Menuju Sepuluh. Dua emosi.

  1. mbah? Haha. *langsung angkat tangan*
    🙂

    itu yg kejadian pengendara mobil marah2 ya tante? Yg pas kita lewat? Luar biasa, lgsg jadi entry blog. 🙂 berbakat menulis nih tante. Lanjutkan!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s