Another Reminder

Dear blog,,

Setelah keisi penuh dengan postingan yang penuh galau gamang gundah gelisah, ada sedikit sentilan di kuping waktu salah satu kawan saya bilang: buka youtube deh, search wali – cabe, biar ga kebanyakan galau… hahaha.. saya cuman ketawa tapi sambil browsing juga sih dan penasaran tea :p

Let’s cekidot ūüėČ

Bang, beli bawang, beli bawang gak pake kulit
Bang, jadi orang, jadi orang jangan pelit-pelit
Neng, beli batik, beli batik warnanya terang
Neng, tambah cantik, kalo sering bantu orang

Itu semua dari Allah, itu semua karena Allah
Itu semua milik Allah Barokallah

Banyak harta ngapain (ngapain)
Kalo gak berkah pikirin (pikirin)
Oh punya harta gak mungkin (gak mungkin) dibawa mati
Hidup indah bila mencari berkah

Punya rezeki bagiin (bagiin)
Bantu yang susah tolongin (tolongin)
Oh jadi miskin gak mungkin (gak mungkin), Allah yang jamin
Hidup indah bila mencari berkah

Ya Allah tuhan kami, berkahi hidup ini
Sampai tua nanti dan sampai dan sampai dan sampai kami mati

Punya rezeki bagiin (bagiin)
Bantu yang susah tolongin (tolongin)
Oh jadi miskin gak mungkin (gak mungkin), Allah yang jamin
Hidup indah bila mencari berkah, hidup indah bila mencari berkah

Such a simple song yaa.. tapi ga se-simple itu maknanya.. Pernah ga ngerasa kita orang paling ga beruntung atau paling terpuruk sedunia? ga mencari berkah mungkin yaa.. ada hal duniawi yang dicari… well, thanx bro for recommending this song!! and wali, you rock!!!!

Coretan Pikiran

Dear blog,

Kumaha damaang? lama sepi tanpa coretan saya ya.. yasudahlah, soalnya kamu memang nomor kesekian di hati saya.. haha.. *sadisss* lagi pengen nulis postingan serius kali ini ūüėÄ

Akhir-akhir ini memang sedang senang-senangnya menikmati keadaan dan mengamati sekeliling. Mencoba untuk sibuk sesibuk-sibuknya tapi entah apa hasilnya, mencoba menikmati keadaan dan berusaha keras berdamai dengan hati. Di waktu lainnya, saya terlena dengan kemalasan (bahkan terlalu sering).

Saya dan lingkungan saya bagai perpaduan jutaan warna. Ada yang berkeluh kesah karena begitu besarnya beban kerja, yang lain berkeluh kesah dengan status pekerja tanpa kerjaan. Ada yang mengharap dan bangga dengan pujian, ada yang memicing sebelah mata ketika yang lain dipuji. Ada yang meninggikan diri dengan memandang rendah orang lain. Ada yang rela melepaskan ambisi atas nama pemenuhan kewajiban status terbaru. Ada yang berlarut dalam kesedihan ketika memandang kebahagiaan yang dirasakan orang lain. Hal-hal seperti ini, walau terdengar seperti pembelaan diri, berpengaruh pada suasana hati saya yang mulai kehilangan fokus dan kosistensi.

Hati, tidak pernah berbohong. Ada ambisi untuk mencapai suatu gelar pendidikan yang lebih, sebagai pembuktian diri kepada massa bahwa saya bisa, saya mampu, saya berpotensi, saya bisa membanggakan orang-orang yang mencintai saya dan saya yakin ilmu akan bermanfaat untuk lingkungan saya. Terbesit dalam hati,¬†mengapa karunia¬†terikat dalam ikatan suci masih belum menghampiri saya. Kalaulah sudah,¬†mungkin sudah ada yang saya ajak berbagi kapanpun dimanapun¬†dalam naungan dan niat suci¬†ibadah, bahkan mungkin sudah ada tangis tawa si¬†kecil. Tapi, hanya sebatas itukah? saya¬†ini hanya akan membanggakan dan bahagia kalau sudah ada penambahan gelar ‘Master’ atau ‘Ny’? lalu apa definisi perasaan jika belum waktunya hal-hal itu terjadi?¬†lalu dimana definisi¬†bahagia¬†dulu yang¬†sering saya rasakan jika melihat siapapun bisa tersenyum karena saya?¬†bagaimana dengan banyaknya orang yang berkebutuhan dan sebenernya saya mampu memberikan sedikit saja kontribusi. Terlalu¬†mengkotakkan diri dengan garis yang saya buat sendiri rasanya. hhaaaa… yap! smua terlalu fokus pada hal duniawi.¬†¬†Dangkal!!! huhuhu *tonjok2 pipi sendiri tapi mental2*

Saya seperti halnya manusia lain, sepertinya tidak akan pernah meng-input kosakata ‘puas’ dalam hidupnya jika terlalu banyak membanding-bandingkan. Akan terlalu banyak bercak iri dengki di hati.¬†

Berdoa, penuh syukur dan ikhtiar adalah solusi mutlak dari kedamaian hati.

So, always be grateful,¬†miss cahaya beku ūüôā