About being a scholarship awardee..

Dear all,,

So here I am, makhluk yang punya blog tapi langka banget update postingan2 anyar termutakhir terinovasi.. huehehe.. sekarang lagi pengen nge-follow up postingan saya yg ini

Officially two weeks saya hengkang dari dunia perkantoran demi menggali ilmu dan wawasan berbahasa berbudaya negara kangguru yang disebut PDT (pre-departure training).. seru! yang jelas karena keluar dari rutinitas harian yang biasanya dilakoni dengan kosan-kantor-kosan-diselingi sesekali nomat ato mejeng kalo lagi kaya :p rute perjalanan harian juga otomatis berubah karena tempat PDT di wilayah kuningan yang memaksa langkah pagi saya menuju halte busway daan transit di halte yang lumayan liuk2 naik turun bikin ngesang dan irit juga sih.. haha.. sugan jadi langsing *amin*

Hal seru lain otomatis karena lingkungan baru, kenalan baru (dan ada bulenya muehehe), plusss bikin otak sadar kalau selama ini dia ga dioptimalkan dan terlalu dimanjakan dengan comfort zone nya.. oyes! saya sudah lupa yang namanya belajar dari textbook, bahasa inggris saya random baik dari struktur grammar dan sejenisnya, dan rasanyaaaa lidah kaya bikin simpul saking lamanya ga speaking2 ini english, rasanya tingkat lemot saya yang didukung usia lebih dari sperempat abad bikin lumayan menguras pikiran sampai akhirnya sepulang course cuman bisa terkapar.. and i feel sooo exhausted!! nah dari sini ini mulai ngeh urgensi peribahasa cari ilmu sampai negeri cina.. karena otak perlu diasah! *korelasinya aga maksa ya :p*

Sekelas dengan teman-teman yang seru dan semangat, jadi bikin belajar makin semangat.. 🙂 yup, we all have same target: make a living in Australia successfully supported by the language enhancement as our first step.. but, beyond the firing spirit, banyak cerita perjuangan.. We, as a scholarship awardee, ikut yang namanya PDT tidak semudah yang mungkin orang-orang pikirkan.. No pain, no gain.. beberapa kawan dengan pertimbangan ini itu akhirnya memutuskan dengan berat hati meninggalkan istri/suami dan terutama anak2 mereka yang masih kecil, ada yang harus siap membawa bayi mungilnya menemani sang bunda menimba ilmu (tanpa didampingi spouse mereka).. disini perlu kesiapan, keikhlasan, dukungan ketika meninggalkan dan ditinggalkan..

It is not easy, karena dibalik fasilitas PDT, kita dituntut untuk memberikan progress yang positif.. semakin saya belajar ini itu semakin ‘ngeh’ kalau saya masih belum tau banyak.. hhaaa jadi inget betapa ga fokusnya saya waktu ujian jumat lalu.. ahuhuhuhu T.T

Setuju dengan yang dibilang Pak Andi kalau PDT ini awal perjuangan.. and I totally conscious of this matter.. kedepannya masih banyak dokumen yang harus disiapkan, masih banyak target yang harus dicapai, and here I see you again, deadline!

Sebagai bentuk rasa syukur saya atas nikmat kemudahan studi saya nanti, tentu saya harus sungguh2 bukan? Smangkaaaaaa friiiizzzz:)

Allahumma yassir wala tuassir..

p.s: Mr. A, smangkaa jugaaa yaaa kamuuu 😉