PARENTING ITU RIBET :p

Saya ini orang yang suka mendengar kisah-kisah inspiratif, yang menambah wawasan hidup, yang membuat pikiran menjadi lebih positif, yang punya goals jelas.. semuanya seru, karena saya bisa ambil ilmunya, energinya, auranya, dan yang baik-baik dan kiranya mampu saya terapkan untuk saya sendiri ya saya terapkan. Toh ga ada yang salah dari usaha untuk terus memperbaiki diri kan ya?

Semenjak jadi istri dan terutama jadi Ibu, saya dibekali ilmu jadi orangtua hanya dengan mengingat-ingat bagaimana cara orangtua saya membesarkan saya dengan nilai yang mereka tanamkan.

Nah, berhubung saya dikasih Allah SWT melalui orangtua saya ilmu duniawi yang mumpuni, saya tidak serta merta langsung copy-paste merawat anak-anak saya apa yang orangtua saya ajarkan kepada saya. Ilmu itu penting, jaman sudah beda. Jaman anak 90an seperti saya, takut dan hormat pada guru, anak-anak jaman sekarang menantang guru.  Dulu anak dimarahi guru pulang ke rumah ikut dimarahi, sekarang orangtuanya yang balik memarahi guru. Well, dunia sudah sangat amat berubah. Inet sudah gampang diakses, ilmu tinggal sebatas tekan mouse untuk surfing di computer.

Masalahnya, semakin baca, semakin tau posisi saya yang tidak tepat.

Semua  buku parenting tertuju pada totalitas peran ibu yang full mengasuh anak tanpa disambi bekerja kantoran 8-5. Rasanya semua SKAK! Tidak ada keberpihakan untuk ibu yang bekerja. Belum lagi men-subkontrakkan penyampaian ilmu ke anak via orang lain yang seharusanya oleh orangtua langsung makin memojokkan saya si ibu bekerja yang masih menumpang di ortu dan mertua. Hhhaaa. Rasanya cuman satu: ga becus banget jadi orangtua. Yang dilanjutkan dengan pertanyaan beruntun lainnya? Dulu mo cepet-cepet nikah tuh kenapa ga siapin ilmu jadi istri jadi ibu dulu sih? Punya goal yang sama ga dengan suami? Endesbreeee… :p

demikian ke-ngambangan postingan sayah….. haha

JADI MINORITAS

Heyhoooo.. udah mangtauntaun kayanya ga posting.. apalagi bocah dua dan lepi dikudeta mas suami.. makin ga bisa ngetik-ngetik kalo di rumah.. haha

Lagi rindu negeri kangguru ceritanya dan inget-inget lika-liku hidup disana yang masih terngiang2.. ah susah sekali move on *halah

Minoritas, satu kata yang awalnya awam untuk saya. Iya, karena terbiasa hidup serba mainstream di negeri sendiri: makan sama-sama nasi, liburan lebaran sama-sama mudik, ibu-ibu seangkot sama-sama berjilbab, sama-sama berpuasa, makan tinggal makan dimana-mana halal, masjid mushola bertebaran antar gang tinggal pilih, dan lain lain.

Begitu saya migrasi ke Negara kangguru, saya dihadapkan pada status saya yang terpampang jelas dengan pakaian saya yang berjilbab. Ya, muslim, si kaum minoritas. Saat summer mahasiswa berpakaian serba minim dan transparan, wanita-wanita berbikini di pantai2, saya tetap dengan baju panjang saya. Saat acara welcoming kampus yang gratisan sana sini isinya cuman bisa minum sparkling water atau jus buah karna lainnya wine dan ga tau mana makanan halal atau engga. Belanja bahan makanan harus tertib baca ingredients sambil nyocokin web list halal food di Australia buat yakin kalau yang kita beli halal dikonsumsi. Jajan di kantin kampus atau resto Indonesia pun harus cermat cari yang ada logo halalnya.

Di lorong kampus mungkin hanya 1 berbanding seribu mahasiswa yang berjilbab. Tapi ga bikin bule-bule ngasih tatapan nanar pikasebeleun, dari ujung kaki ke ujung rambut. It is none of their business. Nah kalau dimari, ada yang pake baju rada stabilo aja dinyinyirin, cape deh. Yang menjadi indah, waktu bertemu sesama wanita berjilbab entah dari Negara manapun, kita saling melempar senyum dan menyampaikan salam, rasanya semua adalah saudara, iya bule2 arab cantik kaya sodara sendiri, kadang ngerasa kembar..*kepedean. LOL. FYI, bule-bule disana bukan kaya pribumi dimari yang kalau kita senyum belum tentu bakalan balik senyum, no, mereka heran nanti dikira kita caper secara disana individualis banget. Senyum aja their own business. LOL.

Terbatasnya tempat untuk wudhu dan sholat jadi tantangan utama. Antara kita jadi lalai atau makin rajin karena seharusnya banyak bersyukur dengan keleluasaan nikmat beribadah di Negara sendiri. Di kampus cuman ada satu mushola dan satu mushola lainnya yang dibuat seadanya, space terbuka di bawah tangga digelarin sajadah ga ada partisi apalagi pintu. Mau wudhu di toilet bingung karena disana toilet kering, kalau wudhu otomatis babaseuhan dan sangat ngeganggu fasilitas umum, jadi harus rajin bawa botol kosong buat diisi air wudhu. Di taman2 nasional lebih leluasa karna tinggal gelar sajadah, siapin aplikasi arah kiblat dan botol isi air wudhu. Di mall2 jelas ga ada mushola, jadi kudu pinter2 cari space kosong yang lumayan bersih dan ga dilalui banyak orang yang meminimalisir diusirin satpam, LOL. Seringnya berakhir sholat di lorong tangga darurat.. iya, segitunya kalau mau sholat di tempat umum.

Ngerasain jadi kaum minoritas, otomatis dengan teman-teman sesama Indonesia sudah pasti akrab dan kuat ikatannya, sudah dianggap saudara sendiri karena mau ke siapa kalau kita perlu sesuatu? Bule-bule belum tentu paham rasanya sono seblak misalnya, yang bisa bikini kan temen yang dari Indonesia juga. Dan itu rasanyaaa indah.. NKRI bersatu!

Pernah komat kamit dalam hati tentang gaya orang lain sedang sholat? Saya? Kadang, kalo lagi ga fokus sholatnya. LOL. Maaaf ya Allah. Disana, sholat tarawih, bayangin aja satu shaf, ada yang sholatnya pake pashmina yang cukup diuntai dikepala rambut kemana-mana ga pake kaos kaki alias bare foot, temen dari Bangladesh, ada yang kerudung syari panjang bercadar, ada yang sholatnya tidak meletakkan kedua tangan di dada. Trus? Apa masalah besar? Apa kita seenak jidat bisa bilang “sorry, you dont suppose to do sholat that way” Sangat tidak. Perbedaan disana hal yang wajar, tidak saling menginterfensi dan so pasti respect each other. Hasilnya? saya si minoritas hidup sangat nyaman, meski saat itu lagi heboh-hebohnya kasus Sydney Siege di Lindt Cafe, ada ketakutan luar biasa akan diapa-apain, nyatanya? Biasa aja ko ga ada yang aneh2. Untuk kasus ini nanti saya bahas khusus opini saya di postingan lain kalau mood dan sempat. :p

Makanya, suka miris dengan Negara yang mayoritas Islam dengan ajarannya yang indah, tapi cerminan sikap orang-orangnya tidak indah. Beberapa orang senang mengelompokkan diri dan hobi mempersoalkan hal-hal remeh mencap cara ibadah si anu si itu salah dan saya yang benar. Suami saya seringkali komentar “orang-orang disini tuh kenapa ya suka mempersulit masalah ibadah beda NU lah muhamadiyah lah, mestinya banyak bersyukur, mau sholat aja gampang banyak tempatnya dan bisa sambil tenang coba disana sholat aja susah cari tempat dan was-was” Naaaahh.. ini nih reminder baget bagi kami yang keikut arus lagi pas kembali ke negeri sendiri.. ah semoga yaaah ada kesempatan dan rezeki melancong kesana lagiii.. *lah? *Aminin aja deh yaaa :p

The point is.. being minority has opened up my mind to see many things in different point of view wisely.. selamat mencoba ya gaes 😉

Let’s Talk About BBS

Awalnya, saya pikir setelah melahirkan itu hanya ada perasaan super bahagia. Karena itu semua yang saya lihat dari para ibu2 baru pasca melahirkan yang pernah saya jenguk.

Hingga akhirnya saya sendiri yang mengalami proses hamil hingga melahirkan anak pertama di Australia. Apa yang saya alami di minggu awal pasca kelahiran bukan hanya bahagia tapi tangisan tanpa sebab, kecemasan, dan perasaan yang tidak menentu yang ternyata ketika saya ceritakan dengan sahabat2 saya, saya mengalami baby blues syndrome (BBS). Tidak lama, mungkin 2 minggu awal. Tapi, saya tidak pernah tau apa itu bbs. Pernah baca, tapi ya hanya sepintas.

2 minggu pasca persalinan, saya harus konsul ke family center untuk dicek kondisi fisik bayi dan kondisi fisik psikis ibu. Iya, disana dari masa kehamilan hingga kelahiran kondisi psikis calon ibu benar2 ditanyakan. Ya karena mereka tahu benar pilihan untuk punya anak itu berat dan mental health itu penting bagi ibu.

Di negara tercinta ini, yang saya rasakan dan alami, baby blues semacam hal tabu untuk diungkapkan. Kebanyakan hanya disimpan atau diungkapkan kepada pasangan saja. Iya, karna nyinyirnya banyak orang yang mencap ‘manja’. Memang salah ya kalau tiba2 menangis atau marah2? Bukan karena ingin, tapi karna pengaruh hormonal dan emosional.

Jawaban dari gejala ini sederhana. Perhatian suami. Ya, ibu baru tidak perlu dihadiahi emas permata berlian. Hanya perlu ditanya, apakah baik2 saja?
Hanya perlu disediakan bahu untuk bersandar dan telinga yang siap menampung semua keluh kesah dan kecemasan yang kalau dipikir secara logika terlalu berlebihan. Wajar, kehadiran anak sama dengan kewajiban dan beban baru yang ingin ibu share dengan suami. Ya, hanya perlu perhatian agar tidak pernah merasa sendiri.

Baby blues yang tidak bisa dikendalikan dengan baik bisa lanjut ke tahap post partum deppression. Yang mana penangannya akan jauh lebih sulit.Dan lagi, baby blues syndrome tidak hanya berlaku untuk pasca kelahiran anak pertama. Pernah dengar berita seorang ibu di mall melempar anak bayi ketiganya lalu lanjut lompat? Walau saya tidak tahu persis sebabnya, saya menduga ada ketidaksehatan mental dibalik ‘sikap seperti baik2 saja’ sang ibu. Wallahualam.

Jadi, ga ada yang salah dari memperhatikan ibu pasca melahirkan. Memijit punggungnya yang sudah 9 bulan mengandung lanjut menopang sang bayi bergadang pagi siang malam. Please, jangan membebani atau menekan ibu karena kebelummampuannya memberi asi, debat cara berpakaian anak bayi, debat cara memandikan bayi, dll. Please, just don’t.

Bukankah keluarga yang bahagia berawal dari ibu yang bahagia?

Bukan ingin menggurui, just do me a favor. Para suami, calon bapak, would you please kindly treat your lady with more portion of sincere and love to accompany her get through the days after labour? Thank you.

And for new moms.. you are not alone 🙂

-dedicated to all mom and dad gonna be-

ps: Thank you, my dearest best friend, to have your phone online and to have your time keep accompanying me get through this after labor moment.

Si Raja Cilik

Siapa tuh? Panggilan gemes saya buat si sulung. Kenapa raja? Saya anak sulung, mas suami juga anak sulung. Anak saya otomatis jadi cucu pertama kesayangan ortu dan mertua saya. Bukan hanya cucu kesayang, tapi juga keponakan super kesayangan. Selalu ditanya sana-sini, dimanja sana-sini, dirindukan sana-sini, dituruti sana-sini, ya, macam raja.

13466378_10154266145022485_4316624698597041351_n.jpg
Si Raja Cilik dan Tuan Besar :p

Konon katanya, sayangnya kakek nenek melebihi sayangnya orangtua si anak. Ibu saya yang cukup keras dan tergolong galak, jadi super lemah lembut kalau menghadapi cucunya. Beliau yang langka mengucap rindu ke anaknya, mengumbar kecupan dan kata rindu tiap kali sang cucu mampir ke rumahnya. *duh saya berasa jadi anak tiri, LOL*

Perfect-Love-Sometimes-Does-Not-Come-Until-The-First-Grandchild.-»-Welsh-Proverb.jpg

Saking sayang dengan cucu, rasanya banyak waktu saya dan suami yang secara ga langsung ‘dikudeta’. Iya, si sulung kalau sudah dipegang kakek-nenek langsung diculik ke kamar atau dibawa jalan-jalan kesana kemari. Honestly, hal kaya gini awalnya sempet bikin si ibu baper dan super jealous lanjut ngedumel sama mas suami karena saya ga bisa sepuasnya main dengan si sulung. Apalagi di awal-awal kepindahan ke Bandung yang mana tiap harinya tidak pernah tidak ada kakek-nenek nya, baik weekend maupun weekdays. Saya yang awalnya tinggal di Bekasi punya banyak keleluasaan ngasuh anak, tiba-tiba ‘diambil-alih’ kakek-nenek nya, otomatis jadi sensitif. Kalau sudah begini, bawaannya pengen manyun sama mas suami lanjut ngedumel ‘bodo ah, anaknya diambil melulu, diurus kakek-neneknya aja gih biar ibu mah sibuk kerja sama jalan-jalan aja’ hihihi.. yup, sounds so childish kan ya? :p

Lama kelamaan, selalu berpikiran negatif seperti itu rasanya melelahkan ya. Ibu mulai putar otak, harusnya pandai-pandai bersyukur. Di kala orang lain merasa gelisah anak-anaknya diasuh oleh orang yang ga dikenal (ART), si Ibu masih punya ortu dan mertua yang tulus mau asuh si sulung dengan keterbatasan fisik mereka yang sudah tidak se-enerjik dulu.

Saya, si cewe perfeksionis, mulai mau menerima keadaan pelan-pelan. Awalnya, saya punya sederet impian dan track sederhana buat anak pertama saya yang ternyata tidak semudah yang dibayangkan.

Cita-cita saya, si sulung makan yang tertib di high chair, makan makanan non artificial ingredients dengan pola baby led-weaning, tidur yang tertib dengan lampu mati dan berdoa sebelum tidur, no gadget, no TV, banyak main mainan buatan saya yang bikin stimulasi motoriknya oke. Semuanya untuk melatih si anak punya rutinitas yang tertib sekalian belajar disiplin sejak dini.

Kenyataannya? Si sulung kalau makan mesti sambil main, jalan-jalan atau nonton TV. Pola makannya berantakan karena ternyata bikin MPASI tiap hari itu menguras tenaga, belum lagi pake kecewa kalau si anak lagi GTM karena makanan semuanya dilepeh, alhasil sesekali ibu cheating pake makanan bayi instant. TV is switched on almost full day, sering nge-youtube, dan sebagainya. Kalau sudah begini salah siapa? Ya kan kembali ke saya sebagai Ibu nya. I could say my baby is not my rule, as a consequent of being a working mom.

Kalau mas suami lihat saya pake acara drama manyun-manyun langsung diingetin baik-baik ‘Bu, kakek neneknya tau kok mana yang baik dan engga buat cucunya, jadi percaya aja’. Tapi kan yaaa konon sayang yang terlalu sayang suka membutakan hati ceunah mah. huehehe :p

Well, hati saya mulai melunak lagi sejak kehamilan kedua yang ternyata membuat saya kelimpungan kalau sendirian pegang si sulung. Saya sadar kalau si sulung super aktif dan seharian dengannya sama dengan senam zumba ga pake istirahat. Jadi, yasudahlah kalau memang TV jadi peralihan yang bikin si sulung sedikit kalem, dimaklumi saja. Yang penting saat si sulung bersama dan suami saya, diusahakan jauh-jauh dari TV dan gadget.

No matter what, grandparent is grandparent. Me and my hubby are a parent. Those are two different kind of thing and irreplaceable one another.
my-son-is-my-routine-and-priority-period-quote-1.jpg

 

 

2nd pregnancy story: Gender

Male or female? (Source: google.com)

Flashback  kehamilan 13 minggu

Dokter: Anak pertama laki2? (sambil fokus nge-USG perut saya, kacamata melorot di hidung) | Saya dan Mas Suami: Ya dok | Dokter: hmmm.. ini juga laki-laki ya bu | Saya dan Mas Suami: Oh, gitu ya dok? laki2 lagi? (sambil komen dalam hati, yaudahlah yaaa apa aja yang penting sehat wal’afiat)

Kontrol di kehamilan 31 minggu…

Dokter: Anak pertama laki-laki ya bu? kalau yang ini jelas ya perempuan (sambil fokus nge-USG perut saya, kacamata melorot di hidung) | Saya dan Mas Suami: Hah?! bukannya laki-laki ya dok? | Dokter : Kata siapa? | Suami : Kata dokter | Dokter : Saya? waktu kapan bilang gitu? | Suami: Waktu kontrol 13 minggu, dok | Dokter: Masa? Oh gitu? Maaf ya saya terlalu cepat menyimpulkan berarti | Saya dan Mas suami: (syok dan speechless, nyengir seadanya) | Saya: yah dok,, ga belanja-belanja nih saya karena kirain laki-laki, masih banyak lungsuran bekas kakaknya. | Dokter : Ah bayi mah perempuan sama laki sama saja gakeliatan ini.. *ngeles*

Akhir kontrol, saya sama mas suami masih bengong-bengong dan cekikikan sendiri. Lah piye ikiiii.. bener-bener ga kepikiran dan ga nyiapin apa-apa banget buat si dede bayi..

Mas suami: (sambil senyum2 hepi denger dapet anak cewe) Tuh kaan, ga salah-salah amat sampe sekarang papap belum nyiapin nama buat anak, taunya berubah kaaann.. :p

Saya: (ga mau kalah) Iya juga siiihh.. kalow gituuuhh sponsor doong sponsooorrr.. ibu mo belanja rok tutuuu buat dede, bando2, baju2 lucu yang mecing sama ibuuu.. hueheheh :p

Wallahualam.. apapun itu, sudah kehendak Allah SWT.. mau perempuan atau laki-laki, we’ll love you tons dede bayiii.. semoga pertemuan kita dimudahkan Allah SWT, jadi anak sehat yang sholeh/ah ya nak.. ibu papap just can’t wait to see you :*

Thingking about Quitting?

Ceritanya ini curhat kegalauan standar emak-emak bekerja yang selalui dilema antara pengen tetep kerja atau jadi ibu RT yang full available ngurus anak-anak dan suami, beres2, plus masak2 cantik di rumah (again!LOL).

working mom
Source: http://www.linkedin.com

For me as a working mom,, have I ever thinking about quitting for my job? often!! LOL. Apalagi dengan suasana kerja baru di kantor baru yang ga se-oke dulu dan terlalu banyak drama yang bikin malesin ngantor. Hahaha. Chicken! :p

Walau ga se-hectic dan se-prestige kerjaan di kantor ibu kota, disini keitung santey pake banget. Jarak kantor ke rumah pondok mertua indah yang hanya 15 menitan, bikin saya punya waktu banyak buat ngurus anak. Pagi-pagi masih sempat mandiin sampe siapin makanan si sulung untuk seharian, jadi mama mertua tinggal ngangetin. Pulang kantor juga masih sempet ajak si sulung jalan-jalan sore keliling komplek, suapin makan, mandiin, ngelonin sampe doi pules.

Trus di kantor piye? ya kalau sibuk ya sibuk, kalau santai ya santei magabut macam ngeblog kaya sekarang ini. Hahaha. Dari segi moril kadang rasanya ga jelas, dibayar tapi ga produktif. Tapi klo ga kerja juga ga punya duit jajan sendiri rasanya gimana gitu yah? ahahaha. *maunya naon sih fris?*

Setiap pilihan yang diambil, pasti ada alasan dan risiko yang mesti diambil. Termasuk keputusan untuk tetap bekerja. Jangan salah, dengan tetap kerja bukan berarti perasaan santai sambil nitipin anak ke orang lain. There’s always guilty feeling, such an imperfect mom. From what I read, that’s common. Salah satu solusi untuk ‘mengurangi’ rasa bersalah, I have to write down all the reason beyond my decision. So, here we go..

Setelah anak lahir, saya sempat hampir 5 bulan jadi ibu RT, ngurus anak, rumah dan suami, alhasil? menyenangkan.. but it just a temporary feeling, somehow I still miss working!! ketemu dan diskusi dengan orang lain, keluar rumah, lihat jalanan walau ya macet-macet juga nemunya. I really need me-time. Kayanya saya bukan tipe orang yang betahan diam di rumah berminggu-minggu dengan rutinitas yang exactly similar everyday. Dan saya belum bisa ngebayangin kalau someday anak2 sudah besar dan punya ‘kehidupan’ masing-masing, giliran saya yang bakalan sendiri kesepian ditinggal dan sibuk dilanda rindu minta dijengukin anak2 saya. Raising children is every parents main job, but not hassling their children. I’ll let them have a responsible freedom. Biar mereka merindukan dan menyayangi orangtuanya dengan tulus tanpa merasa terbebani. 🙂 

Kebiasaan punya uang jajan sendiri. LOL. Yoi, semenjak lulus kuliah tekad saya cuman satu: ga mau minta-minta lagi sama orang tua apalagi pacar, kalau suami mah kan hak yah? ahahahahah. Tapi teteepp.. rasanya sebagai perempuan kalau punya uang sendiri lebih nyaman jadi kalau mau beli tas sepatu atau lain-lain ga perlu nunggu subsidi, tinggal gesek kartu sendiri. Dan rasanya lebih lega aja ga harus ‘nodong2’ mas suami minta ini itu dan ga perlu penolakan.. secara pake duit sendiri.. kalau uang suami kan ada kandungan pertanggungjawaban moril di dalamnya.. huahahaha :p

Mungkin, saat ini Allah SWT masih mengamanahkan rezeki-Nya lewat saya. Kalau suatu hari saya yakin seyakinnya saya bisa lepas dari hal ini (janji-Nya sih sudah pasti ya), bolehlaaah stay at home sajaah.. hoho..

Yah intinya, syukuri dan jalani yang ada saja dulu. Berdoa dan berikhtiar semoga Allah SWT menunjukkan jalan yang diridhoi-Nya. 🙂

 

 

Movie Review: Sabtu Bersama Bapak

Setelah beberapa bulan yang lalu novel dengan judul yang sama mulai eksis di dunia medsos, saya, bukan emak-emak yang doyan baca, ga tertarik sama sekali buat beli terus baca sampai hatam. Sampai sedikit penasaran mulai muncul saat teman-teman yang posting di sosmed komentar kalau bukunya bikin ‘menyentuh’. Dan cukup sekian, masih belum juga ada niatan untuk beli. Ahahaha…

Source: http://www.kubikelromance.com/2014/09/book-review-sabtu-bersama-bapak-by.html
Source: http://www.kubikelromance.com/2014/09/book-review-sabtu-bersama-bapak-by.html

Akhirnya secercah bentuk visualisasinya si novel ini muncul juga. Oyes, walau kata banyak penikmat buku, film sama novel itu kesannya beda, saya lebih prefer nonton filmnya saja yang durasinya cukup 1-2 jam dibanding dibikin penasaran terus mantengin novelnya sampe seharian. Si pemalas. Nyehehe…
Di suatu waktu yang tidak tepat, akhirnya saya dan seorang teman melipir ke bioskop, antri (sambil ada drama diserobot ibu-ibu) dan alhamdulillah masih kebagian tempat.

Dari prolog film nya saja saya sebagai penonton sudah disuguhi dengan nuansa sedih dan duka. Bagaimana tidak? awal cerita sudah langsung menggambarkan detik-detik si bapak yang mendekati ajalnya. Bumil yang sensitive ini langsung terbawa emosi. Huhuhu.

Sebenarnya ceritanya sederhana, tentang rumah tangga beserta intrik, problematika, kesedihan dan kebahagiaan yang umum. Uniknya, sang bapak sebelum meninggal merekam pesan-pesan dalam video yang nantinya akan diputar setiap hari sabtu. Konflik dimulai ketika anak pertamanya sukses sebagai engineer yang hidup di luar negeri namun bermasalah dalam rumah tangganya. Anak kedua tidak kalah suskses dengan menjadi direktur di usia muda namun bermasalah dalam mencari pasangan hidup dan sang ibu mengidap kanker, menjalani beberapa kali operasi tanpa memberitahukan anak-anaknya.
Yang serunya, semua kata-kata dalam dialog yang disampaikan oleh sang Bapak dan Ibu itu makna nya dalam. Seakan-akan orang yang tau kapan akhir hidupnya tahu benar kalau apa yang dilontarkan harus bermakna, bernilai dan tidak ada yang sia-sia.

Penonton satu studio dibuat diam sendu dan tersedu2. Ada sedikit candaan yang menyelingi keseluruhan cerita yaitu saat karakter saka, anak kedua, yang selalu salah tingkah saat PDKT dengan wanita yang ditaksirnya.

Untuk saya sendiri, kisah ini terasa nyata, karena beberapa pesan yang disampaikan terjadi juga dalam kehidupan saya, pasangan saya, dan orangtua saya. Banyak nilai yang bisa diambil. Dan sukses membuat saya penasaran dengan sang penulis novel, dan tertarik untuk beli buku berikutnya 😀

Overall, this is a lovely family movie. Well, it’s worth to watch. I’ll mark 7/10.

Selamat menonton! 😉