Thingking about Quitting?

Ceritanya ini curhat kegalauan standar emak-emak bekerja yang selalui dilema antara pengen tetep kerja atau jadi ibu RT yang full available ngurus anak-anak dan suami, beres2, plus masak2 cantik di rumah (again!LOL).

working mom
Source: http://www.linkedin.com

For me as a working mom,, have I ever thinking about quitting for my job? often!! LOL. Apalagi dengan suasana kerja baru di kantor baru yang ga se-oke dulu dan terlalu banyak drama yang bikin malesin ngantor. Hahaha. Chicken! :p

Walau ga se-hectic dan se-prestige kerjaan di kantor ibu kota, disini keitung santey pake banget. Jarak kantor ke rumah pondok mertua indah yang hanya 15 menitan, bikin saya punya waktu banyak buat ngurus anak. Pagi-pagi masih sempat mandiin sampe siapin makanan si sulung untuk seharian, jadi mama mertua tinggal ngangetin. Pulang kantor juga masih sempet ajak si sulung jalan-jalan sore keliling komplek, suapin makan, mandiin, ngelonin sampe doi pules.

Trus di kantor piye? ya kalau sibuk ya sibuk, kalau santai ya santei magabut macam ngeblog kaya sekarang ini. Hahaha. Dari segi moril kadang rasanya ga jelas, dibayar tapi ga produktif. Tapi klo ga kerja juga ga punya duit jajan sendiri rasanya gimana gitu yah? ahahaha. *maunya naon sih fris?*

Setiap pilihan yang diambil, pasti ada alasan dan risiko yang mesti diambil. Termasuk keputusan untuk tetap bekerja. Jangan salah, dengan tetap kerja bukan berarti perasaan santai sambil nitipin anak ke orang lain. There’s always guilty feeling, such an imperfect mom. From what I read, that’s common. Salah satu solusi untuk ‘mengurangi’ rasa bersalah, I have to write down all the reason beyond my decision. So, here we go..

Setelah anak lahir, saya sempat hampir 5 bulan jadi ibu RT, ngurus anak, rumah dan suami, alhasil? menyenangkan.. but it just a temporary feeling, somehow I still miss working!! ketemu dan diskusi dengan orang lain, keluar rumah, lihat jalanan walau ya macet-macet juga nemunya. I really need me-time. Kayanya saya bukan tipe orang yang betahan diam di rumah berminggu-minggu dengan rutinitas yang exactly similar everyday. Dan saya belum bisa ngebayangin kalau someday anak2 sudah besar dan punya ‘kehidupan’ masing-masing, giliran saya yang bakalan sendiri kesepian ditinggal dan sibuk dilanda rindu minta dijengukin anak2 saya. Raising children is every parents main job, but not hassling their children. I’ll let them have a responsible freedom. Biar mereka merindukan dan menyayangi orangtuanya dengan tulus tanpa merasa terbebani. 🙂 

Kebiasaan punya uang jajan sendiri. LOL. Yoi, semenjak lulus kuliah tekad saya cuman satu: ga mau minta-minta lagi sama orang tua apalagi pacar, kalau suami mah kan hak yah? ahahahahah. Tapi teteepp.. rasanya sebagai perempuan kalau punya uang sendiri lebih nyaman jadi kalau mau beli tas sepatu atau lain-lain ga perlu nunggu subsidi, tinggal gesek kartu sendiri. Dan rasanya lebih lega aja ga harus ‘nodong2’ mas suami minta ini itu dan ga perlu penolakan.. secara pake duit sendiri.. kalau uang suami kan ada kandungan pertanggungjawaban moril di dalamnya.. huahahaha :p

Mungkin, saat ini Allah SWT masih mengamanahkan rezeki-Nya lewat saya. Kalau suatu hari saya yakin seyakinnya saya bisa lepas dari hal ini (janji-Nya sih sudah pasti ya), bolehlaaah stay at home sajaah.. hoho..

Yah intinya, syukuri dan jalani yang ada saja dulu. Berdoa dan berikhtiar semoga Allah SWT menunjukkan jalan yang diridhoi-Nya. 🙂

 

 

Advertisements

Queen of Her Own Dinasty

It’s been a half year and I’m already stayed with my English improvement stagnancy. LOL. So let’s start writing! 😀

Have you ever noticed that a lady would prefer stay at her own home no matter how mess up, super simple, and small her house is? That what has happened to my nanny and mommy. I never understand their thought about being so stubborn of living alone without any help or companion.

Well, I finally figure out that being in a place of your own could bring a progressive mood-booster. No matter where I live, mom’s or mom-in-law’s house, I could never express and do what I want, what I feel, what I like, etc. Things were different when I rule the house, like I used to do when my family stayed in Kingsford. I could wash my clothes whenever I want, cook anything I like without having to clean the messed up instantly, watch any TV program based on my mood, style my room with my sense, arrange every thing in my house by my ‘rule’. For me, that kinda feeling of “having a power” brings about satisfaction which leads to happiness and mood booster.     

queen
source: http://www.pinrest.com

Frankly, for a woman esp. those who have hubby and kids, being-a-queen-desire is not only a one-day-obsession, like let’s say during the wedding party, but also for their whole life. I could say that a lady would always wanted to be a queen of her own “dynasty” for their whole life. So do I. Still counting days to build our dynasty and being the queen forever.. ohohohohoho :p

I got a recommended blog-post related with this post. I love the way he think and write his opinion and philosophy. Check this out.  

 

*And yes, this posting is a sharp code for ma mister, if he read it :p*

Our First Love

Lahir di Randwick, NSW, AU. Disaat Ibu lagi sibuk siap-siap ujian. Ujian tertulis dan ujian menghadapi bukaan lahiran. Harap-harap cemas antara examn duluan atau lahir duluan. Allah SWT menetapkan anak sholeh: Fatih Abqari Kusuma, menyapa dunia seminggu setelah ibu selesai dengan urusan ujian duniawi.

20150620_033645
His cry, miracle for us.

 

Di bulan ke-5 kehamilan, jadwalnya USG morphology, deteksi seluruh organ calon bayi. Dokter radiolog kasih bocoran kalau calon bayi laki-laki (well, actually we insist her to tell us :p). Papap kebingungan cari ilham buat nama calon anak.

Kenapa akhirnya milih inisialnya F.A? dari ibu papanya dooong.. Friska Aji :p

Di masa kehamilan, si Ibu saat itu baru kenal dan langsung nge-fans dan kesengsem banget sama tokoh pejuang Islam, Muhammad Al-Fatih. Pejuang Islam muda yang tampan dan cerdas, brilian sedari remaja, pemimpin terbaik yang disebutkan Allah SWT melalui hadist, penakluk konstantinopel di usia muda, daaan plus-plus lainnya. Lalu jadilah cita-cita Ibu punya anak lelaki dengan ada nama Fatih nya. Fatih sendiri artinya pembuka, perintis, pemenang.

Abqari dapet dari googlingnya papap yang artinya cerdas, bijaksana. Kalau Kusuma jelas nama belakang papapnya anak bayi, penerus keluarga yang artinya harum. Jadi, doa kami untuk cinta pertama kami, semoga jadi anak pertama kami (pembuka) yang bijaksana nan cerdas dan selalu harum namanya. Dan punya jiwa pejuang seperti tokoh yang sama namanya. Aamin ya Rabb. 🙂

20150620_050627.jpg
Fatih Abqari Kusuma

 

So, for our second child and the child after, mau perempuan atau laki-laki, si ibu punya cita2 nama anaknya ada unsur nama tokoh pejuang maupun ilmuwan Islam. Agar suatu saat mereka googling namanya, mereka bangga dan bisa terinspirasi kalau hidup itu berjuang dan berpikir di jalan yang baik dan benar, bukan alay-alayan semata. Udah ga usum. Hehe. 🙂

IBU BEKERJA dan ART

Sejak kembali ke dunia kerja, si mamak inih seringkali dilanda dilema nestapa. Lama nempel2 sama si bocah bikin ketagihan dan kepikiran mau off ngantor sajah jadi mamak erte. Dikala niat jadi mamak erte datang kadang pride mamak yang udah susah-sudah skola sampe master di negeri kangguru ini mulai berkecamuk. Tapi lihat anak dipegang orang lain rasanya ga tega dan pudarlah keinginan mamak ngantor seketika. Gitu aja ga selesai selesai. Haha.

Berhubung hidup jauh dari orang tua dan mertua, si mamak dan mas suami ga tega dan ga mau anaknya dipegang orang lain selain si mamak dan mas sampai minimal anak usia 6 bulan. Akhirnya mas suami kerja di rumah sambil jaga si sholeh. Setelah si anak 6 bulan dan beberapa bulan kerja, mamak mulai letih lesu mata panda karna habis kerja di kantor lanjut kerja di rumah jadi INEMania. Belum lagi kudu nyelesain paket pekerjaan mamak perah (cuci, steril, lap botol) yang ga ada abisnya. Mas suami mulai gatel pengen mobile ksana kemari melebarkan network menggapai mimpi dan asa. *iye, sori, lagi pengen lebay* ahahahah.

Karena mamak kerja di weekdays, tiap weekend waktunya mamak sosonoan sama anak sholeh dan mas suami fokus dengan mondar mandir buat usahanya, tiap weekend juga kita bertiga selalu ke Bandung. Iyah, ini lama-lama nguras energi dan tabungan yeeee.. heuheu.. ya saya aja cape bolak-balik bandung-bkasi terus, gimana anak bayii cobaaa.. alhamdulillah anak sholeh setrooongg.. J tapi ya tetep kepikiran yes L

Lalu di suatu weekend di Bandung tiba2 mama mertua kedatangan si calon ART yang konon dia bilang udah lihai ngurus anak bayi.. well……. ini aga2 antara butuh tapi ogah awalnya.. heuheu.. ya gimana atuh ya orang asing yang entah dari mana tiba2 bakalan ngabisin waktu kurleb 13 jam (9 jam di kantor +/- 4 jam macet gila dijalan) tiap hari di rumah sama si sholeh kesayangan. Kepikiran gimana makannya, dijagain apa engga, diajak interaksi apa engga, dll.

Si mamak dag-dig-dug was-was tiap di kantor. Iya, was-was nya berkali lipat, karena jarak Bekasi –jakarta yang ga bisa dikebut walau naik gojek. Itu juga kayanya jarang ada mamang gojek yang mau ke bekasi T.T. Mas suami mulai fokus usaha di Bandung, ga tega anak di rumah berdua aja, mamak coba ajak si sholeh ke TPA di kantor. 4 harian anak sholeh diajak “ngantor”, alhasil anak ga bobo siang ga bobo sore, keasikan main, dan keganggu temen2 sejawat di TPA. Pulang ke rumah nangis kejer, ga mempan disusuin. Hati mamak ituuuh kaya disayat-sayat kalau udah giniiih T.T secara senjata terampuh (nen*n,-) ga mempan buat nenangin. Semenjak itu mamak trauma ngajak anak sholeh ke TPA. Titip anak sholeh ke Allah SWT aja, di rumah sama ART.

Well, semua itu pilihan kan ya? Si mamak hanya menjalani dan mensyukuri apa yang ada, sambil berusaha cari cara supaya kondisi ga kaya gini-gini aja. Mamak paling risih kalau ada yang cuma komentar nyinyir tanpa tau kondisi apalagi ga ngasih solusi. Sekian dan terima suntikan semangat. Huehehe.

Karena Kebersamaan Patut Diperjuangkan #2

Subhanallah.. ketika ada niat baik Allah SWT menunjukkan jalan-Nya. Sebelum bulan Ramadhan, mas tiba-tiba saja meminta saya pulang sekalian saya bantu mas untuk melengkapi pengajuan visa ke pihak sponsor beasiswa, padahal niat awalnya pengen mencoba puasa di negeri orang sekaligus liburan ke Brisbane.. hehe..

Mas sudah bertekad bulat untuk pindah, dan targetnya secepat-cepatnya bisa kemari. Belum terpikir mau apa dan bagaimana nantinya mas disini, yang terpenting adalah memenuhi niatnya menemani muhrimnya, menghindari fitnah 🙂 Pekerjaan apapun yang penting halal dan barokah.

Sebelum pulang liburan puasa, langsung memproses semua kelengkapan administrasi di kampus dan top up asuransi kesehatan untuk kelengkapan pengajuan visa mas. Alhamdulillah semua lancar, padahal saya terhitung mepet-mepet mengurusnya.

Setiba di Jakarta, semua syarat sudah dipenuhi dan tinggal menunggu medical check-up. Kami dikabari pihak beasiswa bahwa pengajuan visa bisa sampai 2 bulan sejak pengajuan, berarti paling cepat perkiraan bulan Oktober dan mas belum mengajukan resign. Di luar dugaan, visa sudah jadi di pertengahan Agustus! Alhamdulillah.. jadi hanya tinggal menunggu proses resign mas dan persiapan mental mas suami.. no matter what, I know it wasn’t easy for him.. but he is a man with principal 🙂

Allah SWT tidak berhenti memberikan hidayah yang begitu besar pada kami. Beberapa hari sebelum mas tiba di Sydney, teman Indonesia yang kebetulan istrinya sudah selesai Phd, akan pulang ke Indonesia di bulan Oktober dan sedang mencari penggantinya untuk bekerja di pabrik. Dapat kabar bahwa mas akan kemari, langsung saya ditawari. Saya sudah diwanti-wanti oleh teman saya, bahwa pekerjaannya berat, di pabrik bukan dibalik meja, atau computer, tapi angkut2. Saya tahu benar, ini pasti berat buat mas suami yang sehari-harinya bekerja dengan desain, tapi beliau bilang siap. *Ah mas suamii…. ciinnttaaaa deeeehhh :*

Hari kedua mas landing di Sydney, mas sudah diminta untuk langsung bekerja karena pabrik memang sedang sangat kekurangan tenaga. Sepulang mengantar Mas, sepanjang perjalanan pulang ke rumah, saya terharu luar biasa. Speechless. Hanya bisa mengucap hamdalah. And I’m sooo proud of my beloved husband :*

Bahkan, saat saya mengulas cerita ini, jantung saya masih berdegup kencang dan selalu membuat saya berkaca-kaca saat mengingatnya.

“fabiayyi ala irobbikuma tukadziban…”

Kingsford,
Di sela-sela assignment,
Menunggu pujaan hati pulang lembur 🙂

Karena Kebersamaan Patut Diperjuangkan

G’day all..! Wow! been 7643524 years yaaa.. haha

Kemana aja fris? ada ko, ya disini-sini aja.. sibuk mondar mandir kampus-rumah, ala2 mahasiswi kupu-kupu (kuliah pulang kuliah pulang) :p

Lagi sadar untuk posting karena ada kabar gembira untuk kita semua.. muihihihihi.. *iya, si mastin itu sampe Sydney loh gaungnya*

Sesuai dengan judul, lagi pengen share moment penting di hidup kami (saya dan Mr.A), momen yang luar biasa penuh hikmah bagi kami 🙂

Jauh hari sebelum saya berangkat menimba ilmu, saya selalu membujuk-bujuk mas suami untuk ikut menemani di Sydney, di sela-sela bercanda sampai obrolan serius dan selalu berakhir dengan jawaban tidak dari mas suami. Karena mas suami yang berstatus pegawai sasta tidak memungkinkan untuk cuti di luar tanggungan Negara (ini istilah untuk PNS sih sebenernya) yang otomatis kalau mas suami ikut, harus resign. Pertimbangan terberat mas suami sebagai kepala keluarga adalah bukan saat menjalani hidup di Sydney, tapi sekembalinya mas suami ke Indonesia dengan status ‘tidak bekerja’.

Entah kenapa untuk hal ini, saya yakin seyakin-yakinnya kalau dengan menikah, kemudian resign, tidak akan menutup pintu rezeki. Saya yakin kalau Allah SWT pasti akan menunjukkan jalan bagi hamba-Nya yang berusaha. Tapi, dengan kondisi suami yang pada saat itu memang berat untuk melepaskan pekerjaan, saya mencoba mengerti dan tidak pernah lagi mengungkit, ya anggaplah case closed. Ya tapi selalu saya selipkan di doa-doa saya, kalau memang yang terbaik bagi kami adalah bersatu maka Allah SWT akan mempersatukan kami.. 🙂

Kenapa saya kekeh pengen kita sama2 di Sydney? Karena saya bosan dengan LDR.. haha.. Sedari pacaran, walau jarak hanya Depok-Bekasi-Thamrin, rasanya waktu sudah habis di jalan kalau untuk bertemu, cintaku berat diongkos dan tua di jalan.. haha.. Di awal pernikahan, mas suami sibuk dengan thesis dan lembur kerja, saya sibuk dengan persiapan sekolah dan dinas luar kota. Di weekend, kami tidak hanya kami, kami milik keluarga besar saya dan keluarga besar mas, sibuk mondar mandir silaturahmi sekaligus pamitan. Jadi kalau dihitung-hitung, ‘our time’ nya limited edition sekali.. hehe.. Terdengar egois sih, tapi ada keinginan untuk menata masa depan kami berdua, dengan banyaknya waktu yang kami habiskan hanya bedua.. tanpa waktu yang digegorogoti macetnya jalanan dan tanpa kelelahan bolak-balik keluar kota untuk sejenak.. susah senang hanya berdua.. membangun sebuah kisah yang tak biasa.. 🙂

Wacana bersatu di negeri kangguru akhirnya pudar, dan LDR lah kami.. rasanya? lagu Raisa bangeettt.. haha :p Setelah dijalani, rasanya ada kurang. Kami menikah, tapi rasanya ada yang kurang. Mas suami merasa tidak mengayomi istri yang berada di negeri entah berantah sendirian, yang di dalam ajaran Islam, membiarkan muhrimnya sendiri. Sayapun sebagi istri merasa tidak berbakti kepada suami, tidak menyiapkan sarapannya, dsb.

Hingga satu waktu, semuanya terasa diarahkan. Mas suami merasa kalau menyusul saya adalah hal terbaik, mulai dari nasihat orangtua, cerita orang2 di sekitarnya, sampai kisah supir taksi, dan banyak hal lainnya menunjukkan bahwa kemari adalah jawaban dari doa dan sujudnya. Akhir Mei, mas ceritanya liburan kemari, sambil melihat-lihat kondisi seperti apa Sydney dan mulailah disinggung wacana pindah kemari.

to be continued……

Wedding Review: Make up and wardrobe

Dear all… sambil nunggu siap menghadapi macetnya ibu kota, ceritanya mau memenuhi janji untuk nge-post tentang review pernikahan.. cekidot 😉

Mari mulai dari item yang saya sudah khatam betul,, make up dan wardrobe buat acara hari H! *taraaaa*.. Perempuan manapuun pasti pengen hasil polesan make up yang sempurna di hari pernikahannya alias mangling bin beautiful.. termasuk saya dong! hohoho 😀 kalau untuk yang satu ini, jauuuhh dari jaman-jaman pacaran pun sudah mulai hunting2.. Huntingnya cukup fesbuk ko, karena di medsos ini, banyak temans yang sudah menikah dan rajin nge-tag vendor2 nikahannya, which is para perias pengantinnyapuun rajin upload foto before-after rias model-modelnya.. jadi cukup banyak referensi 😉

Kenapa duo item ini cukup krusial buat saya? karena saya gendut chubby! hahaha.. perlu tangan2 super terampil yang bisa bikin saya tirus daan cemerlang ga perlu sunlight.. jadi begitu saya hunting, yang pertama saya lihat itu foto before-afternya model2 yang chubby.. hohohoho.. 😀 Selain perlu kemahiran khusus, perlu banget perias yang menyewakan kebaya yang fleksibel, maksudnya satu kebaya bisa dibesar-kecil kan sesuai dengan ukuran body si capeng.. dan wajib hijau warnanya dan bukan hijau pasaran *nahloh nukumaha tah?* 😀

Awalnya mulai hunting serius waktu ada pameran pernikahan, liat kebaya2 cantik.. modelnyapuunn cantik2 dan kurus2 -_- dari awal sudah ada inceran, dindin make up (link nya di mari).. dulu seorang sahabat dirias sama kang dindin, dan recommended banget katanya, dan memang si sahabat jadi pangling pisan waktu nikahannya.. langsung meluncur ke stand yg ini (waktu itu ditemenin mas, padahal ga jelas juga mo nikah kapan.. haha) kebayanya cantik2 dan yang bikin makin jatuh cinta, kebaya model yang manapun bisa digedein.. aaakk pas banget! lanjut minta list harga dan ternyata mahal ya udah gitu full schedule sampe akhir taun 2013… T.T lanjut ke stand satu lagi, ketemu sama ownernya langsung namanya kang oey maher (monggo liat review dimari) harganya mirip sama dindin tapi pas pameran ada diskon yg lumayan bangeettt.. kebaya2nya keren daan bisa digedein juga *mulai kabita*.. berhubung belum ada kejelasan tanggal nikahan, si diskon dadah2 deeh.. :p

Oey ini mulai terngiang2 di kepala *halah* jadi makin intens liat poto2 hasil riasnya.. euumm tapii banyak pertimbangan lain, akhirnya lanjut move on ke referensi berikutnya.. kalau yang sekarang mulai jelas kriterianya, sebisa mungkin perempuan yang merias karna saya berjilbab, ga suka make up yang kandel bedaknyah -_-, ga suka riasan kerudung yang ketinggian ngalahin jini oh jini, dan ga suka sama kebaya yang terlalu heboh.. *banyak syarat* akhirnya nemu dua kandidat yang cocok dengan parameter saya: Yuyun make up sama raden annisa brides begitu tanggal nikah sudah ada langsung kontak dua vendor ini untuk survey harga dan booking tanggal.. yuyun sudah full, alhamdulillah raden annisa masih adaaa.. langsung meluncur ke galerinya, liat2 kebaya, daaan bogoh sama model kebayanya yang simple elegan dan ga pasaran 🙂 harga cocok, langsung DP, jatuh cinta sama si baju kebaya hijau emerald yang ga muat daan ga bisa digedein.. pengen nyoba pun ga sanggup secara diliat sekilas aja pasti nyangkut… hahahaha *tawa sedih saat itu*

Waktu pesan itu H-2,5 bulan which is mepet pisan untuk jait kebaya perdana.. tapi saking penasaran pengen dirias sama Teh Icha (owner) dan warna kebaya resepsinya wajib si hijau emerald, akhirnya dikasih opsi satu2nya sama teh Icha: KURUSIN BADAN SAMPAI SI KEBAYA MUAT… =_____= mau ga mau ini mah.. Oya, untuk kebaya akad sudah ada yang muat jadi ga khawatir, pakai kebaya nasional saja 🙂 riasan untuk resepsi kepikirannya Nyunda dan pengen pake siger, kenapa? karna ga mau kesaingin tamu secara tamu2 jaman sekarang dandannya maksimal.. selain itu biar berasa pengantenannya secara bermahkota emas… ahahahaha.. tobe noted: Teh Icha ini orangnya ramah dan sabar banget.. seru buat diajak kerja sama 🙂

Singkat cerita, Mas musti jait beskap perdana dari blankon sampai selop secara badannya tinggi dan ukuran kakinya gede :p tapi ga sempet fitting karena 2 minggu sebelum hari-H itu sakit sampai bedrest dan pake acara rawat inap dan bikin semua orang hariwang… heuheu.. alhasiill baju resepsi mas sempit 😦 sayang banget.. huhuhu.. tapi karna Mas emang ganteng, pake baju kesempitan dikit puun tetep ganteng :*

This is it.. make up and wardrobe on our wedding day and I love it 🙂

Riasan Akad: Kebaya Nasional
Riasan Akad: Kebaya Nasional
Our make up and wardrobe :)
Our make up and wardrobe 🙂
Riasan Resepsi: Siger Sunda
Riasan Resepsi: Siger Sunda with Teh Icha and team

Ini baju resepsi entah kenapa, mau dijepret kamera manapun hasilnya jadi tosca bahkan biru.. padahal hijau tulen dan tergolong warna hijau yang langka.. -_- buat yang lagi hunting2 perias dan cocoknya dengan riasan simple elegan, you should contact teh Icha 😉 dan yang udah ngicer Teh Icha semoga review-an postingan yang ini bisa jadi referensi.. *kode buat si leutik* hahahaha