Movie Review: Sabtu Bersama Bapak

Setelah beberapa bulan yang lalu novel dengan judul yang sama mulai eksis di dunia medsos, saya, bukan emak-emak yang doyan baca, ga tertarik sama sekali buat beli terus baca sampai hatam. Sampai sedikit penasaran mulai muncul saat teman-teman yang posting di sosmed komentar kalau bukunya bikin ‘menyentuh’. Dan cukup sekian, masih belum juga ada niatan untuk beli. Ahahaha…

Source: http://www.kubikelromance.com/2014/09/book-review-sabtu-bersama-bapak-by.html
Source: http://www.kubikelromance.com/2014/09/book-review-sabtu-bersama-bapak-by.html

Akhirnya secercah bentuk visualisasinya si novel ini muncul juga. Oyes, walau kata banyak penikmat buku, film sama novel itu kesannya beda, saya lebih prefer nonton filmnya saja yang durasinya cukup 1-2 jam dibanding dibikin penasaran terus mantengin novelnya sampe seharian. Si pemalas. Nyehehe…
Di suatu waktu yang tidak tepat, akhirnya saya dan seorang teman melipir ke bioskop, antri (sambil ada drama diserobot ibu-ibu) dan alhamdulillah masih kebagian tempat.

Dari prolog film nya saja saya sebagai penonton sudah disuguhi dengan nuansa sedih dan duka. Bagaimana tidak? awal cerita sudah langsung menggambarkan detik-detik si bapak yang mendekati ajalnya. Bumil yang sensitive ini langsung terbawa emosi. Huhuhu.

Sebenarnya ceritanya sederhana, tentang rumah tangga beserta intrik, problematika, kesedihan dan kebahagiaan yang umum. Uniknya, sang bapak sebelum meninggal merekam pesan-pesan dalam video yang nantinya akan diputar setiap hari sabtu. Konflik dimulai ketika anak pertamanya sukses sebagai engineer yang hidup di luar negeri namun bermasalah dalam rumah tangganya. Anak kedua tidak kalah suskses dengan menjadi direktur di usia muda namun bermasalah dalam mencari pasangan hidup dan sang ibu mengidap kanker, menjalani beberapa kali operasi tanpa memberitahukan anak-anaknya.
Yang serunya, semua kata-kata dalam dialog yang disampaikan oleh sang Bapak dan Ibu itu makna nya dalam. Seakan-akan orang yang tau kapan akhir hidupnya tahu benar kalau apa yang dilontarkan harus bermakna, bernilai dan tidak ada yang sia-sia.

Penonton satu studio dibuat diam sendu dan tersedu2. Ada sedikit candaan yang menyelingi keseluruhan cerita yaitu saat karakter saka, anak kedua, yang selalu salah tingkah saat PDKT dengan wanita yang ditaksirnya.

Untuk saya sendiri, kisah ini terasa nyata, karena beberapa pesan yang disampaikan terjadi juga dalam kehidupan saya, pasangan saya, dan orangtua saya. Banyak nilai yang bisa diambil. Dan sukses membuat saya penasaran dengan sang penulis novel, dan tertarik untuk beli buku berikutnya 😀

Overall, this is a lovely family movie. Well, it’s worth to watch. I’ll mark 7/10.

Selamat menonton! 😉

Queen of Her Own Dinasty

It’s been a half year and I’m already stayed with my English improvement stagnancy. LOL. So let’s start writing! 😀

Have you ever noticed that a lady would prefer stay at her own home no matter how mess up, super simple, and small her house is? That what has happened to my nanny and mommy. I never understand their thought about being so stubborn of living alone without any help or companion.

Well, I finally figure out that being in a place of your own could bring a progressive mood-booster. No matter where I live, mom’s or mom-in-law’s house, I could never express and do what I want, what I feel, what I like, etc. Things were different when I rule the house, like I used to do when my family stayed in Kingsford. I could wash my clothes whenever I want, cook anything I like without having to clean the messed up instantly, watch any TV program based on my mood, style my room with my sense, arrange every thing in my house by my ‘rule’. For me, that kinda feeling of “having a power” brings about satisfaction which leads to happiness and mood booster.     

queen
source: http://www.pinrest.com

Frankly, for a woman esp. those who have hubby and kids, being-a-queen-desire is not only a one-day-obsession, like let’s say during the wedding party, but also for their whole life. I could say that a lady would always wanted to be a queen of her own “dynasty” for their whole life. So do I. Still counting days to build our dynasty and being the queen forever.. ohohohohoho :p

I got a recommended blog-post related with this post. I love the way he think and write his opinion and philosophy. Check this out.  

 

*And yes, this posting is a sharp code for ma mister, if he read it :p*

Our First Love

Lahir di Randwick, NSW, AU. Disaat Ibu lagi sibuk siap-siap ujian. Ujian tertulis dan ujian menghadapi bukaan lahiran. Harap-harap cemas antara examn duluan atau lahir duluan. Allah SWT menetapkan anak sholeh: Fatih Abqari Kusuma, menyapa dunia seminggu setelah ibu selesai dengan urusan ujian duniawi.

20150620_033645
His cry, miracle for us.

 

Di bulan ke-5 kehamilan, jadwalnya USG morphology, deteksi seluruh organ calon bayi. Dokter radiolog kasih bocoran kalau calon bayi laki-laki (well, actually we insist her to tell us :p). Papap kebingungan cari ilham buat nama calon anak.

Kenapa akhirnya milih inisialnya F.A? dari ibu papanya dooong.. Friska Aji :p

Di masa kehamilan, si Ibu saat itu baru kenal dan langsung nge-fans dan kesengsem banget sama tokoh pejuang Islam, Muhammad Al-Fatih. Pejuang Islam muda yang tampan dan cerdas, brilian sedari remaja, pemimpin terbaik yang disebutkan Allah SWT melalui hadist, penakluk konstantinopel di usia muda, daaan plus-plus lainnya. Lalu jadilah cita-cita Ibu punya anak lelaki dengan ada nama Fatih nya. Fatih sendiri artinya pembuka, perintis, pemenang.

Abqari dapet dari googlingnya papap yang artinya cerdas, bijaksana. Kalau Kusuma jelas nama belakang papapnya anak bayi, penerus keluarga yang artinya harum. Jadi, doa kami untuk cinta pertama kami, semoga jadi anak pertama kami (pembuka) yang bijaksana nan cerdas dan selalu harum namanya. Dan punya jiwa pejuang seperti tokoh yang sama namanya. Aamin ya Rabb. 🙂

20150620_050627.jpg
Fatih Abqari Kusuma

 

So, for our second child and the child after, mau perempuan atau laki-laki, si ibu punya cita2 nama anaknya ada unsur nama tokoh pejuang maupun ilmuwan Islam. Agar suatu saat mereka googling namanya, mereka bangga dan bisa terinspirasi kalau hidup itu berjuang dan berpikir di jalan yang baik dan benar, bukan alay-alayan semata. Udah ga usum. Hehe. 🙂

Let’s cook

Iyah, mumpung lagi ga ada kerjaan rajin posting, saya langsung tepati janji posting makanan kece ala dapur mahasiswa Kingsford kala itu.

Bread Pudding

Roti, di negeri bule-bule itu semacam nasi, makanan pokok kesukaan tua dan muda buat sarapan, makan siang sampai makan malam. Makannya porsi 1 loaf roti itu panjang beneeerr. Saya dan mas suami ga sanggup ngabisin cepet sebelum kadaluarsa. Alhasil, cari-cari resep yang bisa ngolah left over bread alias roti sisa. Taraaaa.. bread pudiing! walau rasanya ya roti2 juga tapi ada wangi2 cinnamon nya, lembut dan manis susu.. laku buat di share sama house mate dan teman sejawat 🙂

20140926_180340

Resepnya dimodif dari mariii.

Apple Crumble

Nah ini juga diakibatkan sale apel yang berkilo-kilo dan ga habis-habis kemakan. Cocok dimasak pas autumn atau winter. Bikin hidup lebih manis. Buat sensasi lumernya seru ditambah es krim diskonaaan.. haha

20141009_200337.jpg

Resep dimodif dari sini.

S’mores Cookie Cup

Ternyata, marshmallow itu unik rasanya kalau di olah jadi cake maupun cookies. Lengket-lengket manis gimana gitu bikin ketagihan. Masaknya bikin penasaran dan sedikit butuh effort buat nyari marshmallow yang halal. Resep cookies dapet dari sini.

20141204_150555

Pas sekali coba rasanya seru, saya googling lagi resep unik yang pakai marshmallow. Sempat sukses dengan brownies marshmallow yang ga sempat di foto karena cepet banget ludesnya.. hahaha.. resep bisa dicontek disini.

Mahasiswa Perantau dan Dapur

Konon katanya the power of kepepet is amazing. Nah ini juga yang sepengetahuan saya terjadi di kalangan mahasiswa perantau yang hidup di negeri non rupiah jadi kepepet mepet dapur demi kemaslahatan dompet di saku.. Huehehe..

Di Australia misalkan, seporsi (ya kalau buat orang Indonesia bisa dua kali makan) itu sekitaran 8-12 AUD (setara dengan 80-12oribu rupiah). Kebayang kan bangkrutnya kalau sehari makan tiga kali belum lagi kalau mahasiswanya bawa istri dan anak. Untuk yang single-single, dihitung-hitung mendingan ceplok telur plus nasi sisanya ditabung buat modal traveling.. huehe

Even pria-pria yang kebergantungan ibu, atau istri buat makan, karena jadi single fighter kepaksa melipir dapur, nyalain kompor, masak sebisanya, yang ga bisa ya dibisa-bisain walau rasa berantakan yang penting perut kenyang dompet selamat.. haha

Saya, juga termasuk golongan mainstream yang menjadikan dapur sebagai ruang belajar kedua bahkan sebagai tempat pelarian dan procrastinate yang super menyenangkan.. Hahaha.. Masaknya jadi naik level, karena apa yang dipengen belum tentu juga dijual di resto asia  maupun resto Indonesia, macam cireng, cilok, seblak, dsb.. :p

Berhubung inet kenceng, saya lebih prefer meluncur ke link resep2 kece daripada baca-baca jurnal buat bahan assignment.. haha.. ya at least, ga bisa konsen belajar tapi tetep bisa fokus ngunyah.. perut kenyang hati senang kan yaaa? Masak keseringannya jadi lebih seru daripada kuliah.. haha.. jadi, ga heran kalau kemampuan teori ya gitu-gitu aja, tapi keahlian aduk2 adonan jadi advanced gitu.. nyehehe :p

Suatu saat saking keseringannya saya posting dokumentasi homemade food daripada dokumentasi belajar kelompok di sosmed, teman komentar “lo kuliah engineering apa culinary fris?” ahahaha.. lalu taun berikutnya saya pulkam, dia sekola merantau dan lebih sering posting homemade food ala dia,, see??? mahasiswa dan dapur memang tak terpisahkan sebagaimanapun ga cocoknya mereka.. ahahaha

Next, saya share papasakan yang sempet saya masak dan kepoto.. ya kali menginspirasi untuk lebih rajin masak daripada belajarnya.. muahahaha 😉

 

Move On?

haii gaess…

So here I am, balik ke kampung halaman kota kelahiran dengan lingkungan kerja yang baru, partner baru, bos baru, seragam yang kudu pe en es banget, daaann suasana baaruuu dengan gossip dan intrik yang baru.. ahaha

Jadi, kepindahan saya ke kota bandung tercinta dalam rangka ikut mas suami yang lagi mulai merintis usaha di bandung. Sebageeeii istri sholehah kan mesti manut apa kata suami kan ya? masa iya mas suami mau nyusul saya sampe ostraliyah saya ga mau nyusul doi ke bandung? tengteuingin pan yah.. pindah juga atas dasar pertimbangan saya yang sangat jenuh dan sumpek stress dengan mamacetan di Jakarta, jauhan sama anak yang ditinggal di bekasi cuman sama art, jauhan pula dari mas suami yang di bandung, pluuss kondisi hamil muda yang lagi hobi mabuk galau ga ada yang elus2 punggung kalau lagi lalinu.

Gampang pindahnya? Alhamdulillah da yaaa niat baik mah selalu ada jalannya. Bos-bos saya sangat amat menghargai apa yang namanya keputusan keluarga, amat sangat mengerti bahwa perempuan memang sudah selayaknya ikut suami dan manut apa kata suami, paham betul bahwa kerja itu perlu didukung keluarga. Jadi sewaktu saya mengajukan  pindah, beliau-beliau ga bisa nolak dan langsung setuju, tinggal saya urus masalah administrasi. Kurang lebih 1,5 bulan prosesnya selesai, ya tentu dengan aga sedikit drama yang ga penting buat di share. hehe.

Ternyata ya, excitement saya pindah pulang kampung ga bisa nutupin galau sayah. Iya, saya sudah terlalu lama kerja di lingkungan yang sama, di ruangan yang sama, akrab dan sudah seru dengan rekan-rekan kerja saya. Dan di detik-detik saya mengajukan pindah itu, saat saya pegang project kerjasama drainase dengan Korea daaaan ditawari untuk ikut pelatihannya korea dan ga bisa karena sudah waktunya pindah. huaaaaa… saya tahu persis, kesempatan kaya gini bakalan super langka di tempat saya kerja di bandung nantinya. Banyak yang bakal saya lepas. Kerja di pusat, kesempatan saya keliling ke semua provinsi bahkan LN itu besar, sampai akhirnya kesempatan saya sekolah di LN juga saya peroleh disana. belajar diskusi meeting dan kerjasama dengan divisi lain bahkan kementerian lain dengan topik-topik seru tentang hal-hal teknis yang baru dan prestige. Selalu ada hal baru dan positif yang saya peroleh.

Dan saya tahu persis tempat saya yang baru nanti, banyak cerita yang kurang baik. ya wallahualam. Sampai di suatu obrolan sebelum pindah, “wah fris sekarang lo kalo dines-dines ke lapangan turun status ya dari seluruh provinsi jadi seputar jabar.. haha” dan disambung dengan teman yang lain “ya gapapa kan semua balik lagi ke prioritas si friska toh, dia kan sekarang yang penting kumpul dan dekat sama keluarga, ya ga fris?”.. duuh ini niiih diingetin banget..

Mulai balik lagi ke niat awal. Langsung monolog deh “Sekolah di luar sudah, keliling sebagian Indonesia sudah, ngantor di gedung bertingkat dengan akses masuk pakai kartu pengenal sudah, tetep ngantor tapi deket rumah ada peluangnya dan lancar prosesnya.. terus mau apalagi fris? anak udah mau dua looohh masa iya ego pribadi terus yang dikejer?” hehe

Bismillah saja, semoga Allah SWT terus membimbing hati dengan niat yang baik. bekerja dengan baik, yang paling penting jadi istri dan ibu yang super! Mudah2an. Aamin.

Tanya tentang Beasiswa?

Haaiii gaeess,, lagi mau share dan komentar sedikit tentang beasiswa,, postingan ini terinspirasi Pak Made Andi yang entah kenapa akhir-akhir ini sering posting tentang perkara beasiswa AAS  (ADS saat itu) dengan bahasa yang agak tajam dan sedikit menukik menusuk, tidak sehalus jaman saya mengikuti tulisan beliau 3 tahunan yang lalu,, hoho

Sepulang saya dari negeri kangguru, alhamdulillah banyak yang terinspirasi dan termotivasi untuk mengikuti jejak saya, berburu beasiswa. Saya jadi semacam ‘narasumber’ calon-calon pemburu beasiswa. Hal ini juga terjadi di kalangan teman-teman se-alumni. Kami, tentunya semangat untuk menebarkan informasi seluas-luasnya tentang beasiswa yang pernah kami terima. Bangga rasanya kalau pada akhirnya banyak yang berhasil ikut jejak kami, mendarat dan berburu ilmu di negeri orang. Ya karena kami tahu, bukan hanya ilmu teoritis segunung yang bisa didapat tapi juga ‘ilmu hidup’ lainnya yang luar biasa indah untuk dikenang. 🙂

Uniknya, dari yang bertanya, saya bisa menerka mana yang sedang serius, belum serius atau hanya iseng semata.. hehe.. Kadang, ada yang tanya sampai detail sampai saya jawab berbusa-busa, ada yang bertanya selewat saja, ada yang meminta contoh isian formulir saya, ada yang sampai minta rekomendasi untuk mereview form isian pendaftaran beasiswa mereka.. *aduuhh da aku mah apa atuh bukan panitia seleksi beasiswa* :p

Flash back menjelang akhir 2012, saat saya mendapat informasi lowongan AAS, saya tidak punya kenalan siapa yang bisa saya jadikan narasumber untuk menunutun saya mengisi formulir, apa saja yang harus disiapkan, bagaimana prosedurnya, dsb. Saya? bingung bertanya, googling berjalan. Di link beasiswa biasanya sudah dilengkapi dengan buku panduannya sampai ke link video tentang prosedur seleksi. Saya download, dengar dan baca panduannya sedetail-detailnya. Kurang informasinya? kurang googling tandanya. Blog Pak Andi ini sudah semacam paririmbon buat saya mengikuti seleksi beasiswa, saya baca semua postingan tentang AAS dari A sampai Z. Masih kurang? Saya ikuti dan baca semua blog-blog tentang pemburu beasiswa luar negeri. Ya, berbulan-bulan kerjaan saya googling seputar beasiswa hingga form terisi mantap dan dikumpulkan ke kantor beasiswa.. huehue :p

Bukan takabur, tapi saya jadi berpikir, ulasan Pak Andi tentang ‘Kamu punya mental beasiswa?’ banyak benarnya. Kalau sudah berniat, diikuti dengan banyak membaca, pertanyaan-pertanyaan yang banyak meluncur ke saya akan lain tentunya. Ga heran, kalau pertanyaanya masih general, ya cukup saya jawab “baca aja panduannya, nanti kalau ada yang kurang jelas tanya saya lagi” :p

Masalah rezeki termasuk beasiswa sekolah baik dalam negeri maupun luar negeri ini memang takdir dan rahasia Allah SWT. Ada yang cukup sekali dan ada yang perlu berkali-kali mencoba hingga akhirnya lulus seleksi. Tapi saya percaya  ada campur tangan ‘desire and effort’ di dalamnya. Saya masih dan akan selalu terbuka untuk menebar semangat menimba ilmu dimanapun itu. Tapi at least baca-baca dulu lah yaaa jangan mentah-mentah kalau nanya… huehehe… Semangat sampai mampus pokonyah!!! 😉